Anakku jadi pak Ogah/polisi cepek, kalau disuruh bilangnya ”cepek dulu!”
Suruh makan cepek, mandi cepek, sholat cepek sampai tidur pun cepek dulu.
Cepek = 100 yen = Rp 12.000,-
Anakku jadi pak Ogah/polisi cepek, kalau disuruh bilangnya ”cepek dulu!”
Suruh makan cepek, mandi cepek, sholat cepek sampai tidur pun cepek dulu.
Cepek = 100 yen = Rp 12.000,-
by Lisman Suryanegara
Kyoto News – Baru pertamakalinya dalam sejarah, lagu Indonesia Raya dinyanyikan saat pengajian. Hadirin, diminta oleh ustad untuk berdiri dan ikut menyanyikan lagu kebangsaan, layaknya sebuah upaca bendera 17 Agustus. Meski pada awalnya sempat terjadi keributan kecil, namun tak lama kemudian, peserta pengajian mulai hanyut dalam menyanyikan lagu gubahan WR Soepratman dengan penuh khidmat.
“Balada Porkas 2005 di Kobe”
By Lisman Suryanegara
Suatu hari di bulan Agustus 2005, seluruh masyarakat Indonesia yang berada di wilayah Kansai, Jepang, tumplek di gedung olah raga kota Kobe . Mereka berduyun-duyun datang untuk melaksanakan pesta olah raga se-Kansai, yang rutin digelar tiap tahun. Dulu namanya disingkat menjadi Porkas. Belakangan, nama tersebut berganti menjadi Pormas.
Salah satu rombongan yang datang adalah tim Kyoto , yang saat itu dipimpin langsung oleh Erwan. Dia adalah Menteri Pemuda dan Olah Raganya PPI Kyoto. Diantara peserta rombongan yang pergi, adalah si Kabayan yang ikut menjadi atlit futsal (bola mini) yang kaptennya adalah si Kemod. Awalnya si Kabayan tidak termasuk daftar atlit, sampai suatu waktu si Kemod mendatanginya.
“Kabayan, kamu mau ikut Porkas gak? Kita kurang orang nih buat atlit futsal” kata si Kemod membuka pembicaraan.
“Boleh… boleh… kebetulan aku suka bola, bahkan dulu aku dijuluki ‘Adjat Sudrajat’ oleh temen-temen kampungku” jawab si Kabayan sambil setengah berpromosi.
Adjat Sudrajat adalah pemain Persib di era 80-an. Kemampuan dia dalam menggocek bola dan menjebol gawan lawan, mampu menjadikannya sebagai legenda sepakbola di Jawa Barat.
“Wah, yang bener Kabayan? Hebat bener kamu!” Tanya si Kemod setengah gak percaya.
“Nih lihat nih… gaya Adjat…hebat kan ?” ujar si Kabayan sambil memperagakan gerakan kaki menendang bola.
“Siiipppp…. siplah… berarti kita bakalan mempertahankan medali emas dari cabang futsal dong…” komentar si Kemod optimis setelah melihat gerakan lincah kaki si Kabayan.
Singkat cerita, Kabayan masuk tim futsal bergabung bersama Izwar, Inyong, Ade, dan Kemod. Selama ini, keempat rekannya selalu rajin berlatih bola di lapangan Obaku, kecuali si Kabayan. Sehingga ketika acara Porkas digelar, praktis tidak ada temennya yang tahu kualitas permainan si Kabayan. Namun berita yang tersiar di Kyoto News, “tim futsal PPI Kyoto siap memporak-porandakan lawan dan akan kembali pulang membawa medali emas”. Tentu saja ikonnya adalah kehadiran si Kabayan yang terlanjur dikenal sebagai Adjat Sudrajat.
Pada hari H, permainan futsal dilaksanakan di akhir acara setelah permainan badminton, pimpong, tenis dan bola volley dilakukan. Penonton dari masing-masing daerah bergerombol mengitari lapangan futsal yang lanatainya terbuat dari kayu. Suara bunyi-bunyian dari bekas botol kemasan bertalu-talu membahana di hall yang luas, memberikan semangat kepada atlit yang sedang berlaga.
Di tengah lapangan, dua tim sudah siap bertanding. Tampil sebagai laga pembuka adalah tim PPI Kyoto yang merupakan juara bertahan melawan Kenshusei Osaka yang lebih dikenal sebagai tim Garuda. Kenshusei adalah para pekerja magang, rata-rata lulusan STM yang usianya masih muda, yaitu sekitar 19-23 tahunan. Entah kenapa pada saat babak pertama, si Kabayan tampil sebagai keeper, padahal diiklannya dia adalah striker.
“Priiittttt…” bunyi pluit terdengar nyaring pertanda pertandingan dimulai.
Sorak sorai penonton bercampur suara botol plastik bergemuruh memacu semangat para pemain.
Tidak perlu waktu lama, tim Kenshusei berhasil menguasai permainan. Mereka mengurung pertahanan tim Kyoto . Berkali-kali si Kabayan terjatuh untuk menyelamatkan gawang. Namun sayang, usahanya sia-sia. Satu demi satu penyerang Kensushei merobek gawang yang dikawal si Kabayan. Sampai 15 menit babak pertama berakhir, tim Kyoto ketinggalan 2-0.
Waktu istirahat lima menit, dimanfaatkan manajer Erwan untuk merombak posisi. Kini Izwar sebagai keeper dan si Kabayan sebagai striker.
“Priiiiittt…. “ Pluit babak kedua berbunyi menandakan pertandingan dilanjutkan.
Para pemain Kyoto cukup agresif menyerang pertahanan Kenshusei. Sepanjang pertandingan, para supporter tim Kyoto tak henti-hentinya meneriakkan yel-yel pemompa semangat. Terdengar suara Windy, salah seorang mahasiswi Kyoto University asal Aceh, meneriakkan “Adjat ayo kamu bikin gol…!” Hidup Adjat… Hidup Adjat…!” ujarnya nyaring.
Mendengar teriakan itu, si Kabayan tampil menggila. Dia lari sana-sini, namun sayang, sejauh ini ia belum mendapatkan bola. Dia hanya berlari-lari tanpa menendang bola. Malahan kondisi berbalik, kini tim Kenshusei kembali mampu menekan pertahanan tim Kyoto . Gol demi gol tercipta, sampai akhirnya skor menjadi 4-0.
Pertandingan tinggal lima menit lagi, manajer Erwan menarik Izwar digantikan Amar, yaitu mahasiswa asal Makasar. Sayangnya strategi tersebut belum mampu menolong tim Kyoto , kekalahan berlanjut dengan kebobolan dua gol tambahan. Sehingga sampai pluit tanda pertandinga berakhir, skor pertandingan menjadi 6-0 untuk kemenangan tim Kenshusei.
Penonton dari Kyoto semuanya kecewa, ternyata promosi yang gencar selama ini hanyalah isapan jempol belaka. Adjat Sudrajat yang dibangga-banggakan dalam media Kyoto News hanyalah macan ompong. Prestasi terbaik dia hanyalah “nyaris membentur tiang gawang”. Bahkan ada salah seorang penonton yang saking kecewanya bilang, “harusnya yang diganti itu si Kabayan” katanya bersengut-sungut.
Semenatara itu, saat pertandingan usai, si Kabayan berhasil meloloskan diri ke kamar ganti. Entah apa yang ada dalam benaknya. Namun tidak lama kemudian datang si Kemod menghampiri si Kabayan.
“Kabayan, hari ini kita dapat malu. Masa juara bertahan kalah dipembukaan dengan skor 6-0? Tanpa balas MEN!” kata si Kemod mulai membuka pembicaraan.
“Iya, mereka masih muda-muda, tenaganya gile cing… kayak kuda…” ujar si Kabayan menghibur sambil membela diri.
“Kabayan, sejujurnya kamu itu bisa main bola nggak sih? Masak nggak pernah bikin gol satupun, padahal ngakunya jagoan seperti Adjat Sudrajat.” Tanya si Kemod mulai menginvestigasi.
“Kemod sahabatku, sebenarnya, dulu aku itu bukan dipanggil ‘Adjat Sudrajat’. Tapi temen-temenku memanggilku ‘Aceng Suraceng’ he he he…” ujar si Kabayan cengengesan.
“APA ?!!! Aceng Suraceng…. ?!!!” bentak si Kemod sambil mengepalkan tinju.
Si Kabayan segera ngacir sambil ketawa terbahak-bahak. Sementara itu, si Kemod nyengir kuda menahan jengkel, namun akhirnya senyum mesem saat membayangkan si Windy berteriak ‘Hidup Adjat, hidup Adjat!’.
“Walaupun si Windy berteriak sampai nangis darah sekalipun, gak akan pernah Adjat Sudrajat palsu itu bikin gol!” gumamnya dalam hati.
**** TAMAT****
“Kabayan Lagi Apes”
By Lisman Suryanegara
“Handphone-ku mana ya… duh HPku hilang” ujar si Kabayan sambil
merogoh saku celananya. Saat itu dia baru saja turun dari kereta
Keihan line di stasiun Obaku, sepulang jalan-jalan dari Sanjo, Kyoto
bersama sahabatnya Rizal. Mereka berdua adalah pelajar Indonesia yang
sedang kuliah di Kyoto University, Jepang.
“Loh, tadi aku lihat kamu masih telpon-telponan sama si Iteung di
Chusozima” jawab Rizal mengingatkan sahabatnya.
“Duh, gimana ya… apa aku harus kejar itu kereta sampai ke stasiun
Uji?” Tanya si Kabayan bingung.
“Gini aja, mending kamu lapor dulu sama petugas di stasiun sini,
kalau memang HPmu jatuh di kereta, nanti pasti balik lag” saran
Rizal bijak, menenangkan sahabatnya.
Si Kabayan setuju, akhirnya dengan bahasa Jepang yang pas-pasan,
dia berhasil melaporkan kehilangan HPnya. Dengan susah payah dia
mengisi alamat dalam form yang penuh dengan tulisan kanji. Setelah
selesai lapor, mereka pergi ke lab masing-masing di Kyodai Uji Campus.
Keesokan harinya, Rizal mendapati sahabatnya dengan wajah kurang
gembira sedang duduk di kantin. Padahal biasanya, si Kabayan selalu
riang.
“Kabayan, kok kamu kayak orang sedih sich, kenapa? Mikirin HP ya?” Tanya
Rizal penuh simpati.
“Iya, tadi pagi aku pergi ke stasiun Ohbaku untuk nanyain itu HP,
eh ternyata HPku udah ada di sana loh, katanya sich ada orang yang
baik hati menemukan HPku terjatuh di kereta”jawab Kabayan menerangkan
kronologis kembalinya HP dengan panjang lebar.
“Ya syukurlah, terus kenapa wajahmu memelas gitu, kayak orang yang
kecewa?” selidik Rizal penasaran.
“Kemarin setelah aku kehilangan HP, aku pergi ke kantor telpon au,
minta HPku diblokir. Terus hari ini, aku balik lagi ke kantor tsb
untuk membuka blokirannya. Eh, taunya aku dikenakan biaya 2.750 yen”
ujar si Kabayan gemes.
“Loh,lagian kamu ngapain buru-buru lapor sama mereka, sabar dua
hari kenapa?” Tanya Rizal heran.
“Aku kan takut. Siapa tahu HP itu diambil orang, terus dipakai
nelpon sana-sini, lalu aku harus bayar mahal di akhir bulan” jawab si
Kabayan menerangkan alasannya.
“Iya, aku tahu kalau orang Jepang itu pada jujur, masalahnya
sekarang kan di Kyoto banyak mahasiswa Indonesia. Coba kalau yang
nemukan HPku orangnya kayak elo… bablas deh HPku” sergah si Kabayan
sambil ketawa.
**** TAMAT ****
Catatan: uang 2.750 yen cukup buat lima kali makan si Kabayan di
kantin.
“Dua Badut Kyoto”
by Lisman Suryanegara
Suatu waktu di tahun 2006, dua orang badut tinggal satu rumah di Daigo Ishida Danchi, Rokujizo. Satu orang berperan sebagai Kabayan dan satu lagi sebagai nyi Iteung. Keduanya adalah bujangan lokal sebelum tiba keluarganya masing-masing. Salah seorangnya biasa disebut nyi Iteung, karena dia pandai memasak meskipun dia sebenarnya laki-laki.
“Kabayan, yuk kita jalan-jalan ke Mukaizima” ajak nyi Iteung sambil kelihatan suntuk, karena seharian di rumah gak ada kerjaan.
“Ngapain sich kesana, kayak punya duit aja?” jawab si Kabayan sekenanya sambil matanya tetap nonton TV.
“Dari pada bengong, mending ke Belfa (mall di Mukaizima), siapa tahu ada diskonan sepatu bola” rayu nyi Iteung yang hobbynya main bola.
Tidak lama kemudian nyi Iteung berhasil meyakinkan si Kabayan.
Singkat cerita, dua orang badut sudah naik sepeda dari Rokujizo menuju Mukaizima. Harusnya perjalanan tsb ditempuh dalam waktu 15 menit, kalau tahu arahnya. Namun sayangnya mereka gak tahu jalan, maka petualangan tak berujung pun dimulai…
Dengan modal bahasa Jepang yang pas-pasan, mereka bertanya sana-sini setiap kali menemui belokan.
“Sumimasen om… sumimaseng” kata si Kabayan memanggil seorang Jepang yang mirip om-om.
“Mukaizima doko desu ka” lanjut kabayan dengan mimik wajah memelas.
Dengan bahasa Jepang yang fasih, orang yang ditanya tadi menerangkan jalan menuju Mukaizima dari arah Rokujizo. Sambil menjelaskan, tangan orang itu nunjuk-nunjuk arah.
“Hai, wakarimashita…” jawab si Kabayan sambil membungkukkan kepalanya tanda hormat dan terimakasih.
Nyi Iteung surprise juga, karena tadi ketika dikasih penjelasan kepalanya si Kabayan manggut-manggut tanda paham. Padahal omongan si Om tadi sungguhlah susah dimengerti nyi Iteung. Perjalanan pun dilanjutkan. Namun setelah lama muter-muter, Mukaizima yang dituju tidak ketemu juga.
“Kabayan, ini teh gimana sich… perasaan dari tadi muter-muter aja… kapan nyampainya?” protes nyi Iteung yang mulai manyun karena sudah setengah jam lebih mengayuh sepeda.
“Tadi sih, orang itu bilang, belok kiri, belok kanan, terus lurus…” jawab si Kabayan menghibur.
“Wah, info yang gak jelas tuh… jangan-jangan kamu gak ngerti yah…” protes nyi Iteung sengit.
“Iya sih, sebenarnya aku gak ngerti apa yang diomongkan si Om tadi, cuma dari gerakan tangannya itu, harusnya belok kiri, belok kanan, terus lurus…”
“Wah kacau dech… katanya tadi kamu bilang hai wakarimashita…. tapi gak wakarimashita, gimana sich? kalau kayak gini, mending balik aja lagi… sampai kiamat pun gak akan ketemu tuch Belfa!” cerocos nyi Iteung sengit, sambil ngeloyor ninggalin si Kabayan yang tersenyum mesem.
**** TAMAT****
Edisi Curhat by Lisman
**** Mimpikah AKU ??? ****
Seminggu yang lalu aku disibukkan oleh persiapan acara ESQ Preview di Kyoto. Banyak kerjaan di lab yang terganggu karenanya. Semua konsentrasiku terserap untuk mensukseskan acara tersebut.
Tiap hari inbox yahooku penuh dengan puluhan email tentang persiapan acara ESQ. Isinya adalah koordinasi panitia, mulai dari cari gedung, biaya sewa, konsumsi, sampai mengirimkan undangan dan meng-update list peserta, tidak lepas dari pantauanku sebagai ketua panitia.
Meskipun banyak teman-teman yang membantu, namun rasanya jabatan ketua tetaplah menyeramkan buatku. Aku dituntut untuk tahu segalanya dan merespon semua kondisi yang terus berubah.
Puncak kesibukanku adalah hari Jumat, tepat sehari sebelum acara dimulai. Hari itu aku dikenalkan oleh bu Ami dengan rombongan ESQ yang berjumlah 15 orang. Jujur saja, saat itulah pertamakali bertemu pak Ary Ginanjar dan bersalaman dengan beliau.
Tidak ada yang istimewa, aku hanya bersalaman saja dengan rombongan ESQ. Kemudian aku dengan pak Agus (manager ESQ) dan pak Andrie (asistant), berdiskusi dan survey tempat. Selain ambil foto, tidak lupa cek sound, cek infokus dan cek lighting.
Jam sepuluh malam semua persiapan telah selesai. Kemudian diskusi santai dilanjutkan di loby hotel tempat rombongan ESQ menginap. Tidak ada obrolan yang istimewa, kami hanya berbicara tentang pengalaman masing-masing.
Setengah jam kemudian, pak Ary Ginanjar ditemani dengan seorang lelaki yang sedang memegang cup gelas berisi kopi lewat di depan kami. Tentu saja kami memberikan senyum dan berdiri, sebagai rasa hormat. Sekali lagi aku disalami pak Ary. ” Bagaimana persiapannya? ” sapa beliau. Aku jawab “Semua OK…”.
“Kenalkan, ini pak Yudhistira, penulis novel Arjuna Mencari Cinta” kata pak Ary. Aku membungkuk hormat pada lelaki disamping pak Ary yang ternyata adalah seorang penulis beken. Tiba-tiba otakku berpikir, bagaimana caranya agar aku punya kesempatan menimba ilmu tulis-menulis dari pak Yudhistira?
Entah darimana memulainya, kami terlibat pembicaraan yang cukup menarik mengenai budaya Jepang. Sehingga pak Ary dan pak Yudhis yang niatnya hanya menyapa, akhirnya duduk gabung dengan kami. Pembicaraan pun semakin seru dan aku semakin semangat bercerita tentang pengalaman hidupku di Jepang. Mungkin karena sedang didengarkan oleh orang tenar seperti pak Ary dan pak Yudhis.
Tak terasa pembicaraan telah berlangsung satu jam. Diakhir pembicaraan pak Ary menyampaikan undangan untuk menulis sebuah buku tentang Jepang dengan beliau. “Wah… benar-benar surprise. Ini kesempatan langka!” batinku. Beliau meminta aku untuk menuliskan naskah tersebut sampai pertengahan Desember.
“Jangan khawatir dengan tulisan, ceritakan aja dengan gayamu, nanti pak Yudhistira akan mengedit tulisannya” kata Pak Ary.
“Terus nanti penulisnya Lisman dan Saya” tambahnya lagi.
Aku hanya terdiam, ucapan pak Ary seperti sebuah simfoni indah. Tak percaya namun nyata. “Emang siapa gue…?” pikirku saat itu.
Pak Yudhistira hanya tersenyum sambil mengangguk mendengarkan ucapan pak Ary. Rupanya beliau sekarang sebagai penanggungjawab ESQ magazine. Hal itu saya ketahui dari kartu namanya. Jadi tidak aneh kalau pak Yudhistira menerima arahan dari pak Ary.
“Saya ingin kita membedah buku itu pertengahan Januari 2009 di menara ESQ 165, di Jakarta” pungkas pak Ary menutup pembicaraan kami.
“Mimpikah AKU ???” batinku sambil melongo, seolah tak percaya apa yang baru saja didengar. Aku menatap kepergian pak Ary, masuk lift dengan penuh syukur.
**** Terimakasih Tuhan untuk Setiap Moment Indah yang Kau Berikan Padaku****
by Lisman Suryanegara
Suasana kelas sangat hening tatkala guru PMP memasuki ruangan. Tiba-tiba dengan nada tinggi “Saya tidak akan mulai mengajar di kelas ini, sebelum siswi yang berkerudung itu keluar!” ujarnya lantang membuat tegang para murid yang ada di sana . Sorot matanya tajam tertuju kepada seorang siswi berkerudung yang duduk di pojok kelas. Gadis itu bangkit dari duduknya, kemudian dengan langkah gontai pergi meninggalkan ruangan. Tampak raut mukanya menyembunyikan kesedihan yang mendalam. Seumur hidupnya, baru kali ini dia diusir dari ruang kelas, hanya karena dia memakai kerudung.
Di propinsi Jawa Barat bagian timur, terdapat sebuah kabupaten yang dijuluki kota santri. Di kabupaten tersebut ada sebuah SMA Negeri yang sangat favorit. Muridnya adalah siswa-siswi terbaik yang datang dari berbagai penjuru kabupaten. Bahkan tidak sedikit siswa tersebut datang dari kota kabupaten lain disekitarnya. Sesuai julukannya sebagai kota santri, di sekolah tersebut banyak sekali siswinya yang mengenakan kerudung. Mereka belajar dengan tenang, sampai suatu ketika turun sebuah peraturan yang membuat suasana duka bagi mereka siswi berkerudung.
Sekitar medio tahun 80-an, lewat SK menteri P&K,keluarlah peraturan yang menyatakan bahwa semua siswi yang memakai kerudung, diperintahkan untuk menanggalkan kerudungnya ketika sedang mengikuti proses belajar mengajar. Bagi mereka yang tidak mau melepas kerudung, maka pihak guru diberikan kewenangan untuk mengusir siswi tersebut dari kelasnya. Kebijakan itu sangat menyakitkan, terbukti banyak siswi yang terpaksa melepaskan kerudungnya demi untuk bertahan di sekolah favorit tersebut.
Adalah seorang gadis bernama Fitria Hamzah yang biasa dipanggil Pipit, dia termasuk siswi berkerudung yang tidak mau menanggalkan kudungnya saat proses belajar mengajar berlangsung. Saat itu, ia seorang siswi kelas 3 Biologi semester enam. Hanya tinggal empat bulan lagi Pipit akan lulus SMA. Namun karena kasus kerudung, urusannya menjadi panajang. Beberapa kali dia dipanggil oleh guru BP. Setiap kali dipanggil, dia dibujuk agar melepaskan kerudungnya, namun setiap itu pula dia menolaknya.
Pipit sebenarnya tipikal orang yang lembut dan patuh pada semua aturan sekolah. Prestasi dia di sekolahnya boleh dibilang bagus. Kalau tidak ranking satu, paling dia turun ke ranking dua atau tiga. Meskipun penurut, namun bukan berarti dia tidak memiliki prinsip. Ketika ada aturan sekolah yang berbenturan dengan keyakinannya, maka dia bersikeras untuk mempertahankan keyakinan tersebut. Walaupun resikonya harus diusir dari ruang kelas seperti saat mengikuti pelajaran PMP.
Sehari setelah kejadian Pipit dikeluarkan dari kelas, ia dipanggil kembali ke ruang BP. Di sana ia diberikan pilihan untuk buka kerudung atau mengundurkan diri dari sekolah Favorit tersebut. Karena merasa diperlakukan sewenang-wenang, Pipit kemudian memilih untuk tidak buka kerudung dan juga tidak mengundurkan diri. Dia bertekad akan melawan ketidakadilan tersebut. Perlawanannya harus berakhir ketiaka pihak sekolah kehilangan kesabaran, dengan mengutus guru BP dan guru agama akhirnya surat pemecatan dikirimkan ke orang tua Pipit.
Demi mengetahui anaknya dipecat gara-gara memakai kerudung, ayah Pipit yang merupakan pemuka agama di kampungnya merasa gusar. Beliau marah sekali sama guru yang membawa surat tersebut.
鉄aya akan tuntut kalian nanti di akhirat, karena kalian telah mendzolimi anak saya dengan memecat dia karena memakai kerudung・ucap ayah Pipit dengan nada emosi.
Walaupun tidak terima dipecat, namun kenyataannya sekarang Pipit sudah resmi dikeluarkan dari sekolah favorit tersebut. Pipit hanya bisa berdoa 添a Allah Yang Maha Pengasih, berikanlah kemudahan hambaMu dalam menuntut ilmu, sesungguhnya Engkaulah penolong orang yang teraniaya・
Dalam kesedihannya, Pipit akhirnya pindah sekolah ke SMA Muhamadiyah yang gedungnya berdiri megah di depan SMA Negeri sebelumnya. Hal itu dilakukan agar ia bisa mengikuti Sipenmaru (nama ujian seleksi untuk masuk perguruan tinggi saat itu). Di sekolah barunya Pipit belajar keras demi mewujudkan cita-citanya.
Tiga bulan berlalu, ujian Sipenmarupun dilaksanakan. Pipit tercatat sebagai peserta ujian dari sekolah barunya yaitu SMA Muhamadiyah. Meskipun sempat ditawari mengikuti PMDK (seleksi tanpa ujian) dari SMA sebelumnya, namun Pipit menolak. Dia ingin melupakan kepedihan yang dialaminya saat dipecat dari sekolah tersebut.
Bulan berikutnya, tibalah pengumuman hasil ujian Sipenmaru. Dengan tergesa-gesa, Pipit mengabarkan kepada orang tuanya bahwa ia diterima di Fakultas Kedokteran Umum di salah satu PTN di Bandung. Berita itu disambut suka cita seluruh keluarga besar Pipit. Akhirnya Allah Swt mengabulkan permohonan doa orang yang teraniaya.
・Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan・
**** TAMAT ****
Hari ini (kamis, 3 jan 2007), kami sangat berterimakasih atas kebaikan mamih dan papih, namun maaf bila kami belum bisa membalasnya, bahkan mungkin kata-kata kami sering menyakitkan. Semoga Alloh mengampuni kami dan juga orang tua kami…
Salam bakti dari anakmu yang sedang menyesali karena telah mengeluarkan kata yang tidak tepat/bijak disaat engkau bahagia…