Sisihkan Waktu Untuk Membaca dan Menulis

November 18, 2011

Informasi hilir mudik menghampiri kita setiap saat. Saat baca buku, lihat TV bahkan saat nonton bola, ada saja sesuatu yang bisa kita ambil pelajaran.

Untuk menajamkan keahlian kita dalam menulis dan juga menyimpan informasi penting, sisihkan waktu sejenak untuk membaca dan menulis. 

Saat ini saya sedang ingin menulis cerita untuk dijadikan buku. Lalu, saya cari buku punya orang lain untuk saya baca. Kenapa? Karena setelah membaca biasanya ide muncul. Tiba-tiba dapat tema tulisan yang menarik atau dapat ilmu cara menulis yang baik.

Oki, selamat membaca apa saja dan selamat menulis apa saja.

Happy writing and reading!


Kenapa saya kembali nge-blog?

November 10, 2011

Hampir tiga tahun lamanya saya berhenti nulis di blog, kenapa? Jawabannya klise, gak punya waktu. Lalu kenapa sekarang saya kembali aktif nulis di blog?

Empat hari yang lalu istri saya bercerita, kalau Nurfa anak saya yang paling besar rajin mencari tulisan saya lewat internet. Dia katanya menemukan tulisan tentang Pipit sang dokter. Yang bikin saya senang, tulisan saya itu memotivasi dia untuk jadi dokter.

Jadi, saya kembali aktif menulis dengan alasan untuk memotivasi anakku dan anak Indonesia lainnya supaya memiliki cita-cita yang tinggi. Mereka membutuhkan bahan bacaan yang dapat memupuk mimpinya, menjaga semangatnya dalam meraih cita-cita.

Terakhir, saya mendoakan semoga Anda beserta keluarga mendapatkan kebahagiaan sebagaimana saya mengharapkan kebahagiaan tsb.

Sukses selalu!


Ingat Indonesia

November 9, 2011

Hari ini saya berada di Kyoto. Ini adalah tahun ke-7 saya tinggal di Jepang. Entah kenapa belakangan ini saya ikut memikirkan keterpurukan bangsa Indonesia. Sepertinya negaraku mempunyai beban yang sangat berat untuk melangkah.

Pertanyaannya: apa sumbangsih saya untuk Indonesia?

Belum ada, tapi minimal saya sebagai orang Indonesia ingin melihat bangsaku maju… Bismillah!


Kisah Nadya: “Polisi Cepek!”

December 17, 2008

 

Anakku jadi pak Ogah/polisi cepek, kalau disuruh bilangnya “cepek dulu!”

Suruh makan cepek, mandi cepek, sholat cepek sampai tidur pun cepek dulu.

Cepek = 100 yen = Rp 12.000,-


“Laskar Salam, Penyebar Virus Kedamaian”

December 17, 2008

 by Lisman Suryanegara

Kyoto News – Baru pertamakalinya dalam sejarah, lagu Indonesia Raya dinyanyikan saat  pengajian. Hadirin, diminta oleh ustad untuk berdiri dan ikut menyanyikan lagu kebangsaan, layaknya sebuah upaca bendera 17 Agustus. Meski pada awalnya sempat terjadi keributan kecil, namun tak lama kemudian, peserta pengajian mulai hanyut dalam menyanyikan lagu gubahan WR Soepratman dengan penuh khidmat.

 
Kejadian istimewa itu terjadi pada hari Sabtu (6/12) pukul 13.00 JST, saat pengajian bedah Al-Quran dilakukan di Daigo Ishida Danchi Hall, Rokujizo. Kegiatan yang dikoordinir oleh Keluarga Muslim Islam Indonesia (KMII) Kansai, Jepang tersebut, dilaksanakan untuk menyongsong Idul Adha yang jatuh pada hari senin (8/12). 
 
Acara pengajian yang dipandu dan dibuka oleh Shofwan Al-Bana, dihadiri sekitar 40 orang masyarakat Indonesia yang ada di wilayah Kyoto dan Osaka. Sebelum acara dimulai, hadirin dipersilakan mencicipi masakan soto ayam bumbu padang yang lezat masakan dari Ibu Lena. Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan pembacaaan ayat suci Al Quran oleh Arif Bramantoro.
 
Ketika tiba acara utama disampaikan, yaitu bedah Al-Quran, ustad Amin Sumanjaya yang didatangkan KMII dari Indonesia, berhasil mengajak para hadirin untuk sejenak mengingat tanah air. Dengan menampilkan enam orang gambar presiden RI dari yang pertama sampai yang sekarang, lagu Indonesia Raya begema dalam ruangan yang berukuran 12×12 m. Para hadirin yang didominasi pelajar seakan diingatkan oleh ustad, bahwa Ibu Pertiwi sedang menanti anak-anaknya yang sekarang sekolah di Jepang, agar lekas kembali ke tanah air dan membangun Indonesia demi kejayaan bangsanya.
 
Bedah Al Quran dibuka dengan pertanyaan, “Apakah anda yakin bahawa isi kitab Al-Quran yang Anda pegang sekarang ini datang dari Allah Swt?”. Serempak hadirin menjawab “Ya”.
 
Pengajian dilanjutkan dengan membahas ayat demi ayat dari Al Quran, yang menyatakan bahwa Al Quran adalah wahyu dari Tuhan. Para hadirin dibuat malu, meskipun kita tahu bahwa Al Quran itu benar, namun seringkali kita melalaikan isi yang terkandung di dalamnya. Ustad yang lahir di Bandung dan menetap di Bogor itu, mengatakan bahwa kita sering di dorong untuk belajar membaca dan menghafal Al Quran, kemudian berpuas diri setelah menghafalnya tanpa mempelajari dan mendalaminya, apalagi mengamalkan ajarannya.
 
Ayat demi ayat dibacakan secara bergiliran oleh hadirin, kemudian satu persatu peserta diminta untuk membacakan artinya. Seolah sedang ‘menelanjangi diri’, para hadirin membaca ayat-ayat yang selama ini dilanggarnya. Kemudian sang ustad bertanya lagi “Apa balasannya bagi mereka yang ingkar terhadap Al Quran?” kali ini hadirin terdiam, tidak mampu menjawabnya. Karena mereka tahu, bahwa Allah Swt telah menyediakan neraka Jahanam bagi mereka yang kafir.
 
Satu persatu air mata mulai menetes, membayangkan kelak balasan apa yang akan kita peroleh di hari pembalasan, hari yang tiada keraguan bahwa setiap manusia akan menerima semua balasan amalannya. Betapa sombongnya kita dihadapan Allah Swt selama ini, berani melanggar dan memperolokkan ajaran Al Quran.
 
Tak terasa tiga jam waktu berlalu. Para hadirin terlihat masih ingin bersama ustad untuk membedah isi Al Quran. Sayangnya, waktu yang terasa berjalan begitu cepat, harus mengakhiri pertemuan tersebut. Namun karena masih banyak yang haus akan ilmu Al Quran, akhirnya diputuskan pengajian sesi kedua dilanjutkan di musola Uji Campus.
 
Setelah makan dan sholat magrib, pengajian di Uji campus dimulai jam 18.00 JST. Tampak peserta yang hadir adalah Dr. Nasir, Dr. Rouf, Dr. Acep, Lisman, Shofwan, Nurul, dan Arif beserta Faiza can. Pengajian kembali membedah Al Quran, mulai dari pembuatan alam semesta, malaikat, jin dan manusia, satu-persatu topik dibahas dengan tuntas berdasarkan rujukan Al Quran.
 
Meskipun pengajian telah dilaksanakan sampai tengah malam, namun hanya sebagian kecil saja modul “Paham Qurani” dapat dibahas. Selebihnya Ustad Amin memberikan slide power point dan CD, yang isinya tentang bagaimana agar kita mudah memahami Al Quran. Beliau berpesan, silakan dibajak sebanyak-banyaknya, tanpa perlu minta izin ataupun membayar royalti.
 
Dua pesan ustad yang masih terngiang di kepala adalah:
1. Jadilah pelajar sejati yang membaca, mendengar dan memahami Al Quran dengan akal fikiran, bukan hanya sekedar ‘katanya’. Sehingga kita tidak mengkultuskan individu atau iman taqlid.
2. Jadilah laskar salam, yang menyebarkan virus perdamaian kepada semua umat manusia, bukan hanya pada satu golongan saja. Agar Islam menjadi rahmatan lil alamin.
 
Semoga ada manfaatnya dan mohon maaf bila ada kesalahan dalam melaporkan jalannya acara.
 
**** TAMAT****
 
Catatan: Bagi rekan-rekan yang membutuhkan file power point, CD dan materi “Bedah Al-Quran”, silakan hubungi Dr. M. Nasir (ketua KMII Kansai), atau kirim email ke Lisman El Balados (Kyoto News)

Duta Budaya Indonesia Guncang Kyoto

December 17, 2008
by Lisman Suryanegara 
Kyoto News –  Seperti sudah diprediksi sebelumnya, wakil budaya Indonesia mampu mencuri perhatian penonton dalam acara Kyoto International Music Festival (Min On) ke 20.  Diawali dengan tarian Pasembahan, suasa gemulai nampak memenuhi hall yang berkapasitas 1000 orang. Disusul dengan tampilnya serombongan pemain angklung, semua yang hadir seakan diajak bertamasya ke alam Parahyangan yang indah. Puncaknya, ketika tiga orang penari Bali menampilkan tarian eksotis pulau dewata, membuat semua hadirin yang berjubel sampai ke belakang pintu, harus menahan napas.
 
Acara yang berlangsung hari Minggu sore (30/11) di Kyoto Kaikan tersebut, seolah menjadi milik Indonesia. Hal ini sebenarnya sudah bisa dirasakan sejak awal audisi. Tim budaya Indonesia yang diwakili para pelajar dan warga yang bermukin di Kyoto, mampu meloloskan tiga wakilnya. Sementara negara lain seperti Vietnam, Meksiko, Korea dan China hanya mampu mengirimkan satu wakilnya. Padahal dari segi jumlah pelajar yang menetap di Kyoto, China adalah yang terbanyak.
 
Dibalik layar, tim tari Pasembahan sempat grogi. Mengingat dalam gladi kotor, mereka tampil dalam suasana tegang. Namun akhirnya, ketika pentas, para penari yang kebanyakan masih pemula mampu menampilkan tarian Padang dengan sangat sempurna. Dengan senyum yang terus terpancar di bawah sinar lampu kemerahan, mereka menari seperti layaknya penari profesional. Tarian mereka semakin indah dengan kostum warna-warni dari berbagai daerah di Nusantara, koleksi KJRI Osaka.
 
Seperti yang dikatakan Wina Syafwina, koorniator tim tari Paembahan, bahwa event tahunan ini selalu diikuti oleh wakil Indonesia. “Kita bersyukur sekali bahwa Indonesia mempunyai banyak tarian yang bisa ditampilkan dalam ajang internasioanl. Mudah-mudahan masyarakat dunia khususnya Jepang, akan senang berkunjung ke Indonesia” ujarnya bangga.
 
Sementara itu, tim angklung yang turun dengan kekuatan penuh, menggebrak penonton dengan lagu pertama Caca Marica. Bunyi gemerincing bambu ditambah dengan goyangan yang lincah para pemainnya, membuat penonton terpesona dalam alunan yang rancak tersebut. Tampil di barisan depan adalah trio pendekar angklung yaitu Kiki, Nelly dan Anna Sorja. Sedangkan di bagian tengah sederet nama seperti Lena, Yuni, Mia, Henny dan Niken mampu mengimbangi rancaknya pemain pria yang terdiri dari Joko, Ikhsan, Lisman, dan Shofwan. Lagu kedua, yaitu ampar-ampar pisang, dibawakan sempurna dengan goyangan yang mengikuti irama, seolah mengajak penonton untuk melupakan krisis moneter yang melanda dunia.
 
“Malam ini adalah penampilan saya terkahir di Min On, setelah tiga tahun tak pernah absen” ujar Nelly Rahman, bendahara tim angklung. “Tahun depan saya sudah selesai kuliah dan harus kembali ke tanah air” kata kandidat doktor itu dengan suara sedih sebagai tanda perpisahan. Lain halnya dengan Cindy, mahasiswa yang baru datang di Kyoto, dengan balutan busana daerah Palembang yang menawan, dia tampil cukup tegang. “Saya terkesima dengan penonton yang sangat banyak, tadi saya tidak ikut goyang. Ini pengalaman pertama saya main angklung dan tampil di depan ribuan penonton” kenangnya dengan rona pipi kemerahan, membuat semua orang yang melihatnya gemas.
 
Di akhir acara, sebagai duta penutup, tarian Bali dijadikan puncak keindahan budaya Indonesia. Gerakan gemulai dari Ayu salah seorang tim penari Bali, langsung menyedot perhatian penonton. Disusul dengan gerakan lincah Bli Widhya, seakan dewa-dewi pulau Dewata hadir menemui hadirin yang duduk terkesima. Diakhiri dengan gerakan Rahwana yang diperankan sempurna oleh Arie, membuat pengunjung seolah melihat raksasa jahat yang menakutkan. Tarian mereka benar-benar dahsyat, seluruh hadirin berdecak kagum. Tak terasa waktu 10 menit melintas begitu cepatnya.
 
“Saya baru pertamakali menari, apalagi ini tarian Bali dan harus tampil di depan ribuan penonton” ujar Arie dengan nada tak percaya, karena dia satu-satunya penari Bali yang bukan orang Bali. “Tapi untungnya, tadi saya tampil sempurna, sehingga penonton banyak yang ketakutan..” katanya lagi sambil ketawa tekekeh.
 
Penampilan apik para duta budaya Indonesia tidak terlepas dari peran semua pihak. Tentu saja, ucapan terimakasih perlu disampaikan khusunya kepada KJRI Osaka yang telah mendukung penuh acara ini dengan meminjamkan pakaian adat Nusantara yang sangat indah. Selain itu dukungan dari para pelajar dan masyarakat Indonesia yang ada di Kyoto merupakan suatu wujud dari rasa nasionalisme kita di negeri orang.(Lisman)

Kisah Kabayan Saba Jepang (Part 3)

December 17, 2008

“Balada Porkas 2005 di Kobe”

     By Lisman Suryanegara

 

Suatu hari di bulan Agustus 2005, seluruh masyarakat Indonesia yang berada di wilayah Kansai, Jepang, tumplek di gedung olah raga kota Kobe . Mereka berduyun-duyun datang untuk melaksanakan pesta olah raga se-Kansai, yang rutin digelar tiap tahun. Dulu namanya disingkat menjadi Porkas. Belakangan, nama tersebut berganti menjadi Pormas.

 

Salah satu rombongan yang datang adalah tim Kyoto , yang saat itu dipimpin langsung oleh Erwan. Dia adalah Menteri Pemuda dan Olah Raganya PPI Kyoto. Diantara peserta rombongan yang pergi, adalah si Kabayan yang ikut menjadi atlit futsal (bola mini) yang kaptennya adalah si Kemod. Awalnya si Kabayan tidak termasuk daftar atlit, sampai suatu waktu si Kemod mendatanginya.

 

“Kabayan, kamu mau ikut Porkas gak? Kita kurang orang nih buat atlit futsal” kata si Kemod membuka pembicaraan.

“Boleh… boleh… kebetulan aku suka bola, bahkan dulu aku dijuluki ‘Adjat Sudrajat’ oleh temen-temen kampungku” jawab si Kabayan sambil setengah berpromosi.

 

Adjat Sudrajat adalah pemain Persib di era 80-an. Kemampuan dia dalam menggocek bola dan menjebol gawan lawan, mampu menjadikannya sebagai legenda sepakbola di Jawa Barat.

 

“Wah, yang bener Kabayan? Hebat bener kamu!” Tanya si Kemod setengah gak percaya.

“Nih lihat nih… gaya Adjat…hebat kan ?” ujar si Kabayan sambil memperagakan gerakan kaki menendang bola.

“Siiipppp…. siplah… berarti kita bakalan mempertahankan medali emas dari cabang futsal dong…” komentar si Kemod optimis setelah melihat gerakan lincah kaki si Kabayan.

 

Singkat cerita, Kabayan masuk tim futsal bergabung bersama Izwar, Inyong, Ade, dan Kemod. Selama ini, keempat rekannya selalu rajin berlatih bola di lapangan Obaku, kecuali si Kabayan. Sehingga ketika acara Porkas digelar, praktis tidak ada temennya yang tahu kualitas permainan si Kabayan. Namun berita yang tersiar di Kyoto News, “tim futsal PPI Kyoto siap memporak-porandakan lawan dan akan kembali pulang membawa medali emas”. Tentu saja ikonnya adalah kehadiran si Kabayan yang terlanjur dikenal sebagai Adjat Sudrajat.

 

Pada hari H, permainan futsal dilaksanakan di akhir acara setelah permainan badminton, pimpong, tenis dan bola volley dilakukan. Penonton dari masing-masing daerah bergerombol mengitari lapangan futsal yang lanatainya terbuat dari kayu. Suara bunyi-bunyian dari bekas botol kemasan bertalu-talu membahana di hall yang luas, memberikan semangat kepada atlit yang sedang berlaga.

 

Di tengah lapangan, dua tim sudah siap bertanding. Tampil sebagai laga pembuka adalah tim PPI Kyoto yang merupakan juara bertahan melawan Kenshusei Osaka yang lebih dikenal sebagai tim Garuda. Kenshusei adalah para pekerja magang, rata-rata lulusan STM yang usianya masih muda, yaitu sekitar 19-23 tahunan. Entah kenapa pada saat babak pertama, si Kabayan tampil sebagai keeper, padahal diiklannya dia adalah striker.

 

“Priiittttt…” bunyi pluit terdengar nyaring pertanda pertandingan dimulai.

Sorak sorai penonton bercampur suara botol plastik bergemuruh memacu semangat para pemain.

 

Tidak perlu waktu lama, tim Kenshusei berhasil menguasai permainan. Mereka mengurung pertahanan tim Kyoto . Berkali-kali si Kabayan terjatuh untuk menyelamatkan gawang. Namun sayang, usahanya sia-sia. Satu demi satu penyerang Kensushei merobek gawang yang dikawal si Kabayan. Sampai 15 menit babak pertama berakhir, tim Kyoto ketinggalan 2-0.

 

Waktu istirahat lima menit, dimanfaatkan manajer Erwan untuk merombak posisi. Kini Izwar sebagai keeper dan si Kabayan sebagai striker.

 

“Priiiiittt…. “ Pluit babak kedua berbunyi menandakan pertandingan dilanjutkan.

Para pemain Kyoto cukup agresif menyerang pertahanan Kenshusei. Sepanjang pertandingan, para supporter tim Kyoto tak henti-hentinya meneriakkan yel-yel pemompa semangat. Terdengar suara Windy, salah seorang mahasiswi Kyoto University asal Aceh, meneriakkan “Adjat ayo kamu bikin gol…!” Hidup Adjat… Hidup Adjat…!” ujarnya nyaring.

 

Mendengar teriakan itu, si Kabayan tampil menggila. Dia lari sana-sini, namun sayang, sejauh ini ia belum mendapatkan bola. Dia hanya berlari-lari tanpa menendang bola. Malahan kondisi berbalik, kini tim Kenshusei kembali mampu menekan pertahanan tim Kyoto . Gol demi gol tercipta, sampai akhirnya skor menjadi 4-0.

 

Pertandingan tinggal lima menit lagi, manajer Erwan menarik Izwar digantikan Amar, yaitu mahasiswa asal Makasar. Sayangnya strategi tersebut belum mampu menolong tim Kyoto , kekalahan berlanjut dengan kebobolan dua gol tambahan. Sehingga sampai pluit tanda pertandinga berakhir, skor pertandingan menjadi 6-0 untuk kemenangan tim Kenshusei.

 

Penonton dari Kyoto semuanya kecewa, ternyata promosi yang gencar selama ini hanyalah isapan jempol belaka. Adjat Sudrajat yang dibangga-banggakan dalam media Kyoto News hanyalah macan ompong. Prestasi terbaik dia hanyalah “nyaris membentur tiang gawang”. Bahkan ada salah seorang penonton yang saking kecewanya bilang, “harusnya yang diganti itu si Kabayan” katanya bersengut-sungut.

 

Semenatara itu, saat pertandingan usai, si Kabayan berhasil meloloskan diri ke kamar ganti. Entah apa yang ada dalam benaknya. Namun tidak lama kemudian datang si Kemod menghampiri si Kabayan.

 

“Kabayan, hari ini kita dapat malu. Masa juara bertahan kalah dipembukaan dengan skor 6-0? Tanpa balas MEN!” kata si Kemod mulai membuka pembicaraan.

“Iya, mereka masih muda-muda, tenaganya gile cing… kayak kuda…” ujar si Kabayan menghibur sambil membela diri.

“Kabayan, sejujurnya kamu itu bisa main bola nggak sih? Masak nggak pernah bikin gol satupun, padahal ngakunya jagoan seperti Adjat Sudrajat.” Tanya si Kemod mulai menginvestigasi.

“Kemod sahabatku, sebenarnya, dulu aku itu bukan dipanggil ‘Adjat Sudrajat’. Tapi temen-temenku memanggilku ‘Aceng Suraceng’ he he he…” ujar si Kabayan cengengesan.

“APA ?!!! Aceng Suraceng…. ?!!!” bentak si Kemod sambil mengepalkan tinju.

 

Si Kabayan segera ngacir sambil ketawa terbahak-bahak. Sementara itu, si Kemod nyengir kuda menahan jengkel, namun akhirnya senyum mesem saat membayangkan si Windy berteriak ‘Hidup Adjat, hidup Adjat!’.

“Walaupun si Windy berteriak sampai nangis darah sekalipun, gak akan pernah Adjat Sudrajat palsu itu bikin gol!” gumamnya dalam hati.

 

**** TAMAT****


Kisah Kabayan Saba Jepang (Part 2)

December 17, 2008

“Kabayan Lagi Apes”
        By Lisman Suryanegara

“Handphone-ku mana ya… duh HPku hilang” ujar si Kabayan sambil
merogoh saku celananya. Saat itu dia baru saja turun dari kereta
Keihan line di stasiun Obaku, sepulang jalan-jalan dari Sanjo, Kyoto
bersama sahabatnya Rizal. Mereka berdua adalah pelajar Indonesia yang
sedang kuliah di Kyoto University, Jepang.

“Loh, tadi aku lihat kamu masih telpon-telponan sama si Iteung di
Chusozima” jawab Rizal mengingatkan sahabatnya.

“Wah, jangan-jangan aku kecopetan saat di kereta tadi” kata si
Kabayan coba-coba mereka kejadian.
 
“Ah gak mungkin, ini kan Jepang… kamu tahu kan orang Jepang itu pada
jujur?” sanggah Rizal membantah dugaan si Kabayan.

“Duh, gimana ya… apa aku harus kejar itu kereta sampai ke stasiun
Uji?” Tanya si Kabayan bingung.

“Gini aja, mending kamu lapor dulu sama petugas di stasiun sini,
kalau memang HPmu jatuh di kereta, nanti pasti balik lag” saran
Rizal bijak, menenangkan sahabatnya.

Si Kabayan setuju, akhirnya dengan bahasa Jepang yang pas-pasan,
dia berhasil melaporkan kehilangan HPnya. Dengan susah payah dia
mengisi alamat dalam form yang penuh dengan tulisan kanji. Setelah
selesai lapor, mereka pergi ke lab masing-masing di Kyodai Uji Campus.

Keesokan harinya, Rizal mendapati sahabatnya dengan wajah kurang
gembira sedang duduk di kantin. Padahal biasanya, si Kabayan selalu
riang.

“Kabayan, kok kamu kayak orang sedih sich, kenapa? Mikirin HP ya?” Tanya
Rizal penuh simpati.

“Iya, tadi pagi aku pergi ke stasiun Ohbaku untuk nanyain itu HP,
eh ternyata HPku udah ada di sana loh, katanya sich ada orang yang
baik hati menemukan HPku terjatuh di kereta”jawab Kabayan menerangkan
kronologis kembalinya HP dengan panjang lebar.

“Ya syukurlah, terus kenapa wajahmu memelas gitu, kayak orang yang
kecewa?” selidik Rizal penasaran.

“Kemarin setelah aku kehilangan HP, aku pergi ke kantor telpon au,
minta HPku diblokir. Terus hari ini, aku balik lagi ke kantor tsb
untuk membuka blokirannya. Eh, taunya aku dikenakan biaya 2.750 yen”
ujar si Kabayan gemes.

“Loh,lagian kamu ngapain buru-buru lapor sama mereka, sabar dua
hari kenapa?” Tanya Rizal heran.

“Aku kan takut. Siapa tahu HP itu diambil orang, terus dipakai
nelpon sana-sini, lalu aku harus bayar mahal di akhir bulan” jawab si
Kabayan menerangkan alasannya.

“Kan udah aku bilangin, ini Jepang men! bukan INDONESIA! Barang
hilang pasti balik lagi, nggak kayak di Jakarta, dompet dirante aja
masih bisa dicopet!” cerocos Rizal mengkuliahi si Kabayan.

“Iya, aku tahu kalau orang Jepang itu pada jujur, masalahnya
sekarang kan di Kyoto banyak mahasiswa Indonesia. Coba kalau yang
nemukan HPku orangnya kayak elo… bablas deh HPku” sergah si Kabayan
sambil ketawa.

Dengan perasaan sedikit gondok, Rizal ngomong “Ya udah, syukurin
aja tuh 2.750 yen… ” ketusnya sambil ngeloyor pergi, meninggalkan
si Kabayan yang lagi cekikikan.

**** TAMAT ****

Catatan: uang 2.750 yen cukup buat lima kali makan si Kabayan di
kantin.


Kisah Kabayan Saba Jepang (Part 1)

December 17, 2008

“Dua Badut Kyoto”
by Lisman Suryanegara

Suatu waktu di tahun 2006, dua orang badut tinggal satu rumah di Daigo Ishida Danchi, Rokujizo. Satu orang berperan sebagai Kabayan dan satu lagi sebagai nyi Iteung. Keduanya adalah bujangan lokal sebelum tiba keluarganya masing-masing. Salah seorangnya biasa disebut nyi Iteung, karena dia pandai memasak meskipun dia sebenarnya laki-laki.

“Kabayan, yuk kita jalan-jalan ke Mukaizima” ajak nyi Iteung sambil kelihatan suntuk, karena seharian di rumah gak ada kerjaan.

“Ngapain sich kesana, kayak punya duit aja?” jawab si Kabayan sekenanya sambil matanya tetap nonton TV.

“Dari pada bengong, mending ke Belfa (mall di Mukaizima), siapa tahu ada diskonan sepatu bola” rayu nyi Iteung yang hobbynya main bola.
Tidak lama kemudian nyi Iteung berhasil meyakinkan si Kabayan.

Singkat cerita, dua orang badut sudah naik sepeda dari Rokujizo menuju Mukaizima. Harusnya perjalanan tsb ditempuh dalam waktu 15 menit, kalau tahu arahnya. Namun sayangnya mereka gak tahu jalan, maka petualangan tak berujung pun dimulai…
Dengan modal bahasa Jepang yang pas-pasan, mereka bertanya sana-sini setiap kali menemui belokan.

“Sumimasen om… sumimaseng” kata si Kabayan memanggil seorang Jepang yang mirip om-om.
“Mukaizima doko desu ka” lanjut kabayan dengan mimik wajah memelas.
Dengan bahasa Jepang yang fasih, orang yang ditanya tadi menerangkan jalan menuju Mukaizima dari arah Rokujizo. Sambil menjelaskan, tangan orang itu nunjuk-nunjuk arah.
“Hai, wakarimashita…” jawab si Kabayan sambil membungkukkan kepalanya tanda hormat dan terimakasih.

Nyi Iteung surprise juga, karena tadi ketika dikasih penjelasan kepalanya si Kabayan manggut-manggut tanda paham. Padahal omongan si Om tadi sungguhlah susah dimengerti nyi Iteung. Perjalanan pun dilanjutkan. Namun setelah lama muter-muter, Mukaizima yang dituju tidak ketemu juga.

“Kabayan, ini teh gimana sich… perasaan dari tadi muter-muter aja… kapan nyampainya?” protes nyi Iteung yang mulai manyun karena sudah setengah jam lebih mengayuh sepeda.
“Tadi sih, orang itu bilang, belok kiri, belok kanan, terus lurus…” jawab si Kabayan menghibur.
“Wah, info yang gak jelas tuh… jangan-jangan kamu gak ngerti yah…” protes nyi Iteung sengit.
“Iya sih, sebenarnya aku gak ngerti apa yang diomongkan si Om tadi, cuma dari gerakan tangannya itu, harusnya belok kiri, belok kanan, terus lurus…”

“Wah kacau dech… katanya tadi kamu bilang hai wakarimashita…. tapi gak wakarimashita, gimana sich? kalau kayak gini, mending balik aja lagi… sampai kiamat pun gak akan ketemu tuch Belfa!” cerocos nyi Iteung sengit, sambil ngeloyor ninggalin si Kabayan yang tersenyum mesem.

**** TAMAT****


“Manusia Badut, Topengmu Mana ?”

December 17, 2008

   Edisi Curhat by Lisman

 
Sebulan yang lalu, sebuah email mampir di inboxku. Isinya “Kamu dua minggu lagi harus memberikan presentasi untuk Lab. Seminar”.  Sebuah pesan singkat yang nampaknya biasa saja dari seorang profesor pembimbing. Tapi masalahnya, saat itu aku lagi tidak biasa. Aku gak punya data untuk dipresentasikan.
 
Sampai satu hari menjelang persentasi, aku belum juga menemukan ide. Akhirnya dalam hitungan beberapa jam sebelum presentasi, aku baru mulai menuliskan halaman judul. Berikutnya… hitam… hitam… blank, alias aku gak punya ide…
 
Waktu yang ditakuti itu akhirnya tiba juga. Dalam ruangan seminar yang cukup besar, duduk manis profesor pembimbing beserta jajarannya, plus seorang visiting professor dari negeri Cina. Tampak beberapa wakil dari perusahaan yang sedang penelitian di Kyoto University ikut gabung. Mereka ingin mendengarkan kemajuan penelitian mengenai topik PLA. Selain itu, tentu saja hadir belasan pasang mata dari para Posdok dan mahasiswa satu lab yang haus akan ilmu.
 
Babak menegangkan dimulai. Aku coba presentasikan dua buah paper yang baru kubaca pagi hari. Waktu 30 menit pun berlalu, dan kedua paper tersebut sudah aku sampaikan dengan susah payah. Ada banyak komentar dan pertanyaan dari hadirin, namun itu tidak cukup untuk menahan mereka selama 2 jam sampai seminar dinyatakan bubar. Harus ada topik lain untuk mengisi waktu yang kini masih tersisa 1.5 jam lagi. Tapi aku harus ngomong apa? 
 
Anda bisa tebak apa yang bisa kulakukan di depan “jamaah ilmuwan” untuk menghibur mereka? Aku bermain sirkus dengan data-data penelitian usang yang di recycle. Layaknya seorang badut yang kehilangan topeng. Permainanku hanya membuat kecewa penonton.
 
“I don’t understand what you are talking about. It seems you are not ready for today’s presentation” sebuah suara lembut mulai menelanjangi badut yang berdiri tegang. Disusul komentar-komentar berikutnya yang membuat si badut merasa “standing naked in front of people”. Sambil tertunduk lesu, si badut mulai mengasihani dirinya sendiri yang kehilangan topeng.
 
Tuhan…
Biarkan topeng itu pergi dariku
Aku tak ingin jadi badut lagi
selamanya…
 
Kyoto, 17 Nov 2008