Duta Budaya Indonesia Guncang Kyoto

by Lisman Suryanegara 
Kyoto News –  Seperti sudah diprediksi sebelumnya, wakil budaya Indonesia mampu mencuri perhatian penonton dalam acara Kyoto International Music Festival (Min On) ke 20.  Diawali dengan tarian Pasembahan, suasa gemulai nampak memenuhi hall yang berkapasitas 1000 orang. Disusul dengan tampilnya serombongan pemain angklung, semua yang hadir seakan diajak bertamasya ke alam Parahyangan yang indah. Puncaknya, ketika tiga orang penari Bali menampilkan tarian eksotis pulau dewata, membuat semua hadirin yang berjubel sampai ke belakang pintu, harus menahan napas.
 
Acara yang berlangsung hari Minggu sore (30/11) di Kyoto Kaikan tersebut, seolah menjadi milik Indonesia. Hal ini sebenarnya sudah bisa dirasakan sejak awal audisi. Tim budaya Indonesia yang diwakili para pelajar dan warga yang bermukin di Kyoto, mampu meloloskan tiga wakilnya. Sementara negara lain seperti Vietnam, Meksiko, Korea dan China hanya mampu mengirimkan satu wakilnya. Padahal dari segi jumlah pelajar yang menetap di Kyoto, China adalah yang terbanyak.
 
Dibalik layar, tim tari Pasembahan sempat grogi. Mengingat dalam gladi kotor, mereka tampil dalam suasana tegang. Namun akhirnya, ketika pentas, para penari yang kebanyakan masih pemula mampu menampilkan tarian Padang dengan sangat sempurna. Dengan senyum yang terus terpancar di bawah sinar lampu kemerahan, mereka menari seperti layaknya penari profesional. Tarian mereka semakin indah dengan kostum warna-warni dari berbagai daerah di Nusantara, koleksi KJRI Osaka.
 
Seperti yang dikatakan Wina Syafwina, koorniator tim tari Paembahan, bahwa event tahunan ini selalu diikuti oleh wakil Indonesia. “Kita bersyukur sekali bahwa Indonesia mempunyai banyak tarian yang bisa ditampilkan dalam ajang internasioanl. Mudah-mudahan masyarakat dunia khususnya Jepang, akan senang berkunjung ke Indonesia” ujarnya bangga.
 
Sementara itu, tim angklung yang turun dengan kekuatan penuh, menggebrak penonton dengan lagu pertama Caca Marica. Bunyi gemerincing bambu ditambah dengan goyangan yang lincah para pemainnya, membuat penonton terpesona dalam alunan yang rancak tersebut. Tampil di barisan depan adalah trio pendekar angklung yaitu Kiki, Nelly dan Anna Sorja. Sedangkan di bagian tengah sederet nama seperti Lena, Yuni, Mia, Henny dan Niken mampu mengimbangi rancaknya pemain pria yang terdiri dari Joko, Ikhsan, Lisman, dan Shofwan. Lagu kedua, yaitu ampar-ampar pisang, dibawakan sempurna dengan goyangan yang mengikuti irama, seolah mengajak penonton untuk melupakan krisis moneter yang melanda dunia.
 
“Malam ini adalah penampilan saya terkahir di Min On, setelah tiga tahun tak pernah absen” ujar Nelly Rahman, bendahara tim angklung. “Tahun depan saya sudah selesai kuliah dan harus kembali ke tanah air” kata kandidat doktor itu dengan suara sedih sebagai tanda perpisahan. Lain halnya dengan Cindy, mahasiswa yang baru datang di Kyoto, dengan balutan busana daerah Palembang yang menawan, dia tampil cukup tegang. “Saya terkesima dengan penonton yang sangat banyak, tadi saya tidak ikut goyang. Ini pengalaman pertama saya main angklung dan tampil di depan ribuan penonton” kenangnya dengan rona pipi kemerahan, membuat semua orang yang melihatnya gemas.
 
Di akhir acara, sebagai duta penutup, tarian Bali dijadikan puncak keindahan budaya Indonesia. Gerakan gemulai dari Ayu salah seorang tim penari Bali, langsung menyedot perhatian penonton. Disusul dengan gerakan lincah Bli Widhya, seakan dewa-dewi pulau Dewata hadir menemui hadirin yang duduk terkesima. Diakhiri dengan gerakan Rahwana yang diperankan sempurna oleh Arie, membuat pengunjung seolah melihat raksasa jahat yang menakutkan. Tarian mereka benar-benar dahsyat, seluruh hadirin berdecak kagum. Tak terasa waktu 10 menit melintas begitu cepatnya.
 
“Saya baru pertamakali menari, apalagi ini tarian Bali dan harus tampil di depan ribuan penonton” ujar Arie dengan nada tak percaya, karena dia satu-satunya penari Bali yang bukan orang Bali. “Tapi untungnya, tadi saya tampil sempurna, sehingga penonton banyak yang ketakutan..” katanya lagi sambil ketawa tekekeh.
 
Penampilan apik para duta budaya Indonesia tidak terlepas dari peran semua pihak. Tentu saja, ucapan terimakasih perlu disampaikan khusunya kepada KJRI Osaka yang telah mendukung penuh acara ini dengan meminjamkan pakaian adat Nusantara yang sangat indah. Selain itu dukungan dari para pelajar dan masyarakat Indonesia yang ada di Kyoto merupakan suatu wujud dari rasa nasionalisme kita di negeri orang.(Lisman)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: