Kisah Kabayan Saba Jepang (Part 1)

“Dua Badut Kyoto”
by Lisman Suryanegara

Suatu waktu di tahun 2006, dua orang badut tinggal satu rumah di Daigo Ishida Danchi, Rokujizo. Satu orang berperan sebagai Kabayan dan satu lagi sebagai nyi Iteung. Keduanya adalah bujangan lokal sebelum tiba keluarganya masing-masing. Salah seorangnya biasa disebut nyi Iteung, karena dia pandai memasak meskipun dia sebenarnya laki-laki.

“Kabayan, yuk kita jalan-jalan ke Mukaizima” ajak nyi Iteung sambil kelihatan suntuk, karena seharian di rumah gak ada kerjaan.

“Ngapain sich kesana, kayak punya duit aja?” jawab si Kabayan sekenanya sambil matanya tetap nonton TV.

“Dari pada bengong, mending ke Belfa (mall di Mukaizima), siapa tahu ada diskonan sepatu bola” rayu nyi Iteung yang hobbynya main bola.
Tidak lama kemudian nyi Iteung berhasil meyakinkan si Kabayan.

Singkat cerita, dua orang badut sudah naik sepeda dari Rokujizo menuju Mukaizima. Harusnya perjalanan tsb ditempuh dalam waktu 15 menit, kalau tahu arahnya. Namun sayangnya mereka gak tahu jalan, maka petualangan tak berujung pun dimulai…
Dengan modal bahasa Jepang yang pas-pasan, mereka bertanya sana-sini setiap kali menemui belokan.

“Sumimasen om… sumimaseng” kata si Kabayan memanggil seorang Jepang yang mirip om-om.
“Mukaizima doko desu ka” lanjut kabayan dengan mimik wajah memelas.
Dengan bahasa Jepang yang fasih, orang yang ditanya tadi menerangkan jalan menuju Mukaizima dari arah Rokujizo. Sambil menjelaskan, tangan orang itu nunjuk-nunjuk arah.
“Hai, wakarimashita…” jawab si Kabayan sambil membungkukkan kepalanya tanda hormat dan terimakasih.

Nyi Iteung surprise juga, karena tadi ketika dikasih penjelasan kepalanya si Kabayan manggut-manggut tanda paham. Padahal omongan si Om tadi sungguhlah susah dimengerti nyi Iteung. Perjalanan pun dilanjutkan. Namun setelah lama muter-muter, Mukaizima yang dituju tidak ketemu juga.

“Kabayan, ini teh gimana sich… perasaan dari tadi muter-muter aja… kapan nyampainya?” protes nyi Iteung yang mulai manyun karena sudah setengah jam lebih mengayuh sepeda.
“Tadi sih, orang itu bilang, belok kiri, belok kanan, terus lurus…” jawab si Kabayan menghibur.
“Wah, info yang gak jelas tuh… jangan-jangan kamu gak ngerti yah…” protes nyi Iteung sengit.
“Iya sih, sebenarnya aku gak ngerti apa yang diomongkan si Om tadi, cuma dari gerakan tangannya itu, harusnya belok kiri, belok kanan, terus lurus…”

“Wah kacau dech… katanya tadi kamu bilang hai wakarimashita…. tapi gak wakarimashita, gimana sich? kalau kayak gini, mending balik aja lagi… sampai kiamat pun gak akan ketemu tuch Belfa!” cerocos nyi Iteung sengit, sambil ngeloyor ninggalin si Kabayan yang tersenyum mesem.

**** TAMAT****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: