Kisah Kabayan Saba Jepang (Part 3)

“Balada Porkas 2005 di Kobe”

     By Lisman Suryanegara

 

Suatu hari di bulan Agustus 2005, seluruh masyarakat Indonesia yang berada di wilayah Kansai, Jepang, tumplek di gedung olah raga kota Kobe . Mereka berduyun-duyun datang untuk melaksanakan pesta olah raga se-Kansai, yang rutin digelar tiap tahun. Dulu namanya disingkat menjadi Porkas. Belakangan, nama tersebut berganti menjadi Pormas.

 

Salah satu rombongan yang datang adalah tim Kyoto , yang saat itu dipimpin langsung oleh Erwan. Dia adalah Menteri Pemuda dan Olah Raganya PPI Kyoto. Diantara peserta rombongan yang pergi, adalah si Kabayan yang ikut menjadi atlit futsal (bola mini) yang kaptennya adalah si Kemod. Awalnya si Kabayan tidak termasuk daftar atlit, sampai suatu waktu si Kemod mendatanginya.

 

“Kabayan, kamu mau ikut Porkas gak? Kita kurang orang nih buat atlit futsal” kata si Kemod membuka pembicaraan.

“Boleh… boleh… kebetulan aku suka bola, bahkan dulu aku dijuluki ‘Adjat Sudrajat’ oleh temen-temen kampungku” jawab si Kabayan sambil setengah berpromosi.

 

Adjat Sudrajat adalah pemain Persib di era 80-an. Kemampuan dia dalam menggocek bola dan menjebol gawan lawan, mampu menjadikannya sebagai legenda sepakbola di Jawa Barat.

 

“Wah, yang bener Kabayan? Hebat bener kamu!” Tanya si Kemod setengah gak percaya.

“Nih lihat nih… gaya Adjat…hebat kan ?” ujar si Kabayan sambil memperagakan gerakan kaki menendang bola.

“Siiipppp…. siplah… berarti kita bakalan mempertahankan medali emas dari cabang futsal dong…” komentar si Kemod optimis setelah melihat gerakan lincah kaki si Kabayan.

 

Singkat cerita, Kabayan masuk tim futsal bergabung bersama Izwar, Inyong, Ade, dan Kemod. Selama ini, keempat rekannya selalu rajin berlatih bola di lapangan Obaku, kecuali si Kabayan. Sehingga ketika acara Porkas digelar, praktis tidak ada temennya yang tahu kualitas permainan si Kabayan. Namun berita yang tersiar di Kyoto News, “tim futsal PPI Kyoto siap memporak-porandakan lawan dan akan kembali pulang membawa medali emas”. Tentu saja ikonnya adalah kehadiran si Kabayan yang terlanjur dikenal sebagai Adjat Sudrajat.

 

Pada hari H, permainan futsal dilaksanakan di akhir acara setelah permainan badminton, pimpong, tenis dan bola volley dilakukan. Penonton dari masing-masing daerah bergerombol mengitari lapangan futsal yang lanatainya terbuat dari kayu. Suara bunyi-bunyian dari bekas botol kemasan bertalu-talu membahana di hall yang luas, memberikan semangat kepada atlit yang sedang berlaga.

 

Di tengah lapangan, dua tim sudah siap bertanding. Tampil sebagai laga pembuka adalah tim PPI Kyoto yang merupakan juara bertahan melawan Kenshusei Osaka yang lebih dikenal sebagai tim Garuda. Kenshusei adalah para pekerja magang, rata-rata lulusan STM yang usianya masih muda, yaitu sekitar 19-23 tahunan. Entah kenapa pada saat babak pertama, si Kabayan tampil sebagai keeper, padahal diiklannya dia adalah striker.

 

“Priiittttt…” bunyi pluit terdengar nyaring pertanda pertandingan dimulai.

Sorak sorai penonton bercampur suara botol plastik bergemuruh memacu semangat para pemain.

 

Tidak perlu waktu lama, tim Kenshusei berhasil menguasai permainan. Mereka mengurung pertahanan tim Kyoto . Berkali-kali si Kabayan terjatuh untuk menyelamatkan gawang. Namun sayang, usahanya sia-sia. Satu demi satu penyerang Kensushei merobek gawang yang dikawal si Kabayan. Sampai 15 menit babak pertama berakhir, tim Kyoto ketinggalan 2-0.

 

Waktu istirahat lima menit, dimanfaatkan manajer Erwan untuk merombak posisi. Kini Izwar sebagai keeper dan si Kabayan sebagai striker.

 

“Priiiiittt…. “ Pluit babak kedua berbunyi menandakan pertandingan dilanjutkan.

Para pemain Kyoto cukup agresif menyerang pertahanan Kenshusei. Sepanjang pertandingan, para supporter tim Kyoto tak henti-hentinya meneriakkan yel-yel pemompa semangat. Terdengar suara Windy, salah seorang mahasiswi Kyoto University asal Aceh, meneriakkan “Adjat ayo kamu bikin gol…!” Hidup Adjat… Hidup Adjat…!” ujarnya nyaring.

 

Mendengar teriakan itu, si Kabayan tampil menggila. Dia lari sana-sini, namun sayang, sejauh ini ia belum mendapatkan bola. Dia hanya berlari-lari tanpa menendang bola. Malahan kondisi berbalik, kini tim Kenshusei kembali mampu menekan pertahanan tim Kyoto . Gol demi gol tercipta, sampai akhirnya skor menjadi 4-0.

 

Pertandingan tinggal lima menit lagi, manajer Erwan menarik Izwar digantikan Amar, yaitu mahasiswa asal Makasar. Sayangnya strategi tersebut belum mampu menolong tim Kyoto , kekalahan berlanjut dengan kebobolan dua gol tambahan. Sehingga sampai pluit tanda pertandinga berakhir, skor pertandingan menjadi 6-0 untuk kemenangan tim Kenshusei.

 

Penonton dari Kyoto semuanya kecewa, ternyata promosi yang gencar selama ini hanyalah isapan jempol belaka. Adjat Sudrajat yang dibangga-banggakan dalam media Kyoto News hanyalah macan ompong. Prestasi terbaik dia hanyalah “nyaris membentur tiang gawang”. Bahkan ada salah seorang penonton yang saking kecewanya bilang, “harusnya yang diganti itu si Kabayan” katanya bersengut-sungut.

 

Semenatara itu, saat pertandingan usai, si Kabayan berhasil meloloskan diri ke kamar ganti. Entah apa yang ada dalam benaknya. Namun tidak lama kemudian datang si Kemod menghampiri si Kabayan.

 

“Kabayan, hari ini kita dapat malu. Masa juara bertahan kalah dipembukaan dengan skor 6-0? Tanpa balas MEN!” kata si Kemod mulai membuka pembicaraan.

“Iya, mereka masih muda-muda, tenaganya gile cing… kayak kuda…” ujar si Kabayan menghibur sambil membela diri.

“Kabayan, sejujurnya kamu itu bisa main bola nggak sih? Masak nggak pernah bikin gol satupun, padahal ngakunya jagoan seperti Adjat Sudrajat.” Tanya si Kemod mulai menginvestigasi.

“Kemod sahabatku, sebenarnya, dulu aku itu bukan dipanggil ‘Adjat Sudrajat’. Tapi temen-temenku memanggilku ‘Aceng Suraceng’ he he he…” ujar si Kabayan cengengesan.

“APA ?!!! Aceng Suraceng…. ?!!!” bentak si Kemod sambil mengepalkan tinju.

 

Si Kabayan segera ngacir sambil ketawa terbahak-bahak. Sementara itu, si Kemod nyengir kuda menahan jengkel, namun akhirnya senyum mesem saat membayangkan si Windy berteriak ‘Hidup Adjat, hidup Adjat!’.

“Walaupun si Windy berteriak sampai nangis darah sekalipun, gak akan pernah Adjat Sudrajat palsu itu bikin gol!” gumamnya dalam hati.

 

**** TAMAT****

One Response to Kisah Kabayan Saba Jepang (Part 3)

  1. […] arigato gozaimasu.Bagi Anda yang ingin tahu blog itu, silakan simak beberapa tulisan di bawah ini.Kisah Kabayan Saba Jepang (Part 3)“Tiba Waktunya Doa Dikabulkan”Maafkan aku… (untuk mertuaku)“Pesanan Tahu Hangat…” […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: